7 Cara Menjawab Pertanyaan Wawancara Kerja


Ada beberapa cara yang bisa diterapkan untuk menjawab pertanyaan wawancara kerja. Masing-masing cara akan menyampaikan informasi atau memberi suatu kesan tentang diri Anda, termasuk jika Anda diam. Cara-cara tertentu bisa jadi lebih efektif untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu atau dalam situasi tertentu. Karena itu, saat mendapat pertanyaan, pikirkan cara manakah yang terbaik untuk menjawab pertanyaan itu. Setelah menentukan, kemudian jawablah pertanyaan tersebut. Berikut ini adalah tujuh cara yang biasa dipakai dalam menjawab pertanyaan interview.

Cara #1: 
Memberi Informasi

Jika pertanyaan yang diajukan mudah dan meminta Anda memberi informasi tertentu, maka jawablah pertanyaan itu dengan memberi infomasi yang dibutuhkan secara singkat. Pewawancara yang handal pasti menginginkan Anda yang lebih banyak berbicara, sebab semakin banyak Anda bicara, mereka mendapat banyak informasi tentang diri Anda. Karena itu, sebaiknya Anda berlatih menjawab pertanyaan supaya dalam interview Anda tidak bicara kesana-kemari atau tampak tidak siap.

Sebagai contoh, jika Anda ditanya: “Apa yang bisa Anda berikan kepada kami?”, Anda bisa menjawabnya dengan menguraikan tiga tugas yang mampu Anda lakukan yang dituntut dari pekerjaan yang sedang Anda lamar.

Cara #2: 
Mengubah Bentuk Pertanyaan atau Ajukan Pertanyaan Lain

Beberapa pertanyaan tidak meminta Anda untuk memberi jawaban cepat. Mungkin Anda memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk memikirkan jawaban yang paling baik dan tepat. Selain itu, kadangkala pewawancara sengaja mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang bersayap. Tujuannya untuk melihat cara Anda merespon pertanyaan tersebut. Jika ini yang terjadi, terlebih dulu mintalah informasi yang lebih mendetail atau spesifik agar Anda bisa memberikan jawaban yang baik. Karena itu, untuk kasus seperti ini sebaiknya Anda ajukan pertanyaan, “Bisakah Anda lebih spesifik?”, atau “Bagian mana yang Anda ingin ketahui secara spesifik, prestasi profesional atau personal?”

Misalnya saja Anda mendapat pertanyaan: “Apakah Anda orang yang loyal?”, Anda bisa menjawabnya dengan pertanyaan lain, “Bisakah Anda lebih spesifik?”. Dengan mengubah bentuk pertanyaan atau mengajukan pertanyaan lain, Anda bisa mengetahui informasi apa yang sebenarnya diinginkan pewawancara dari jawaban Anda.

Cara #3: 
Jawablah dengan Hati-hati atau Hindari Menjawab Pertanyaan

Ada beberapa pertanyaan yang sebaiknya tidak Anda jawab, karena itu sebisa mungkin Anda hindari memberi jawaban. Jika Anda harus memberi jawaban, hati-hatilah dengan kata-kata Anda.

Beberapa pertanyaan sulit bisa jadi berisiko jika dijawab terlalu cepat. Apabila menghadapi pertanyaan jenis ini, usahakan menghindari menjawab dengan cara menggunakan humor, atau bahkan diam saja, kemudian memberi usul untuk membahas topik yang sulit tersebut setelah selesai membicarakan topik-topik lain.

Contohnya, jika Anda ditanya: “Berapa gaji yang Anda inginkan?”. Anda bisa memberi jawaban, “Jalur karir adalah penting bagi saya, dan keputusan untuk memilih sebuah jalur karir tidak semata-mata ditentukan oleh pertimbangan keuangan. Karena itu, jika diijinkan saya akan menjawab pertanyaan ini setelah kita membicarakan soal kualifikasi saya.”

Cara #4: 
Yakinkan Pewawancara

Untuk pertanyaan tertentu, Andalah yang harus dengan sendirinya mengungkapkan tentang prestasi atau keberhasilan diri Anda. Tujuannya untuk mengurangi kecemasan pewawancara terhadap kualifikasi Anda. Jelaskanlah satu-dua prestasi yang pernah Anda raih dengan menggunakan fakta-fakta dan angka-angka sebagai bukti atas kemampuan Anda.

Andai kata Anda mendapat pertanyaan: “Apakah Anda mampu mengerjakan pekerjaan ini?” Anda bisa menjawab, “Kualifikasi utama saya untuk pekerjaan ini adalah … “ (sebutkan tiga kemampuan yang paling Anda kuasai).

Cara #5: 
Humor

Beberapa pertanyaan bisa dijawab dengan humor, terutama jika jawaban yang rasional tidak akan mampu menghilangkan kecemasan pewawancara. Jika dalam keadaan seperti ini, tunjukkanlah bahwa pertanyaan yang diajukan [dan kecemasan yang terkandung di dalamnya] tidak menjadi masalah bagi Anda, dengan demikian juga tidak menjadi masalah bagi pewawancara dan perusahaan]. 

Meski penggunaan humor dalam interview sebenarnya cukup riskan, dan juga tidak mudah untuk mengaplikasikannya secara tepat, namun humor bisa menjadi alat yang tepat untuk mengatasi pertanyaan sulit. Yang harus diingat adalah, jangan menggunakan humor jika hubungan Anda dengan pewawancara masih sangat formal dan kaku. Jika hubungan sudah mulai mencair Anda boleh menggunakan humor sedikit-sedikit dan dengan kehati-hatian. Penggunaan humor yang tepat bisa membuat pewawancara terkesan pada Anda. Contohnya, jika Anda diberi pertanyaan, “Apakah Anda ingin duduk di kursi saya suatu hari nanti?” Anda bisa memberi jawaban, “Ya, jika Anda mendapatkan kursi yang lebih nyaman!”


Cara #6: 
Bahasa Tubuh [Body Language]

Jika Anda diberi pertanyaan, pastikan jawaban verbal dan non-verbal Anda tidak bertentangan. Jangan sampai jawaban non-verbal Anda yaitu dalam bentuk bahasa tubuh [body language] tidak sesuai dengan jawaban lisan Anda. Bahasa tubuh Anda biasanya muncul tanpa disengaja atau disadari. Contohnya, ada orang-orang yang ketika mendapat pertanyaan yang sulit atau memalukan, secara tidak sadar jadi terbatuk, muka memerah, memandang ke lantai, memainkan jari tangannya dan gerakan lainnya.

Para pewawancara sangat pandai melihat perubahan bahasa tubuh Anda, tanpa memberi tanda pada Anda bahwa mereka mengetahuinya. Untuk itu, agar lancar menghadapi berbagai pertanyaan, sebaiknya Anda berlatih. Mintalah bantuan teman atau saudara Anda untuk memberi pertanyaan yang sulit dan memalukan, dan suruh mereka mengamati bahasa tubuh Anda. Selain bantuan teman atau saudara, Anda juga bisa berlatih di depan cermin.

Sebagai contoh, jika Anda ditanya: “Apakah Anda bersedia menurunkan jumlah gaji dari yang Anda harapkan?” Anda bisa menjawab, “Berapa penurunannya?” dengan bahasa tubuh yang tenang tanpa menunjukkan emosi, meski hal ini mengecewakan Anda.


Cara #7: 
Senyum, Rileks dan Tampak Gembira

Cara terbaik untuk menjawab sebagian pertanyaan adalah dengan sikap santai – tersenyum, rileks, dan tampak gembira. Sebagaimana kata orang, senyum dapat mengalahkan segala hal. Lebih efektif lagi jika Anda melakukannya sambil melihat mata pewawancara.

Yang paling penting adalah bagaimana Anda terlihat dari luar, dan bukan yang Anda rasakan di dalam hati [meskipun Anda sebenarnya sedang takut atau cemas]. Seperti halnya dengan bahasa tubuh, Anda dapat menguasai sikap ini dengan banyak berlatih.

Jika Anda mendapat pertanyaan: “Bagaimana penilaian Anda atas cara saya mewawancai Anda?” Anda bisa menjawabnya dengan menunggu sesaat sambil tersenyum, kemudian berkata, “Saya suka cara seperti ini.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar